Kandang Babi Paling Mengerikan di Indonesia




Namanya memang menggelitik dan bikin heran, Kandang Babi. Namun ini bukan kandang hewan, melainkan jurang selebar 15 meter tapi kedalamannya ratusan meter. Ini jalur paling mengerikan ke Puncak Carstensz, Papua!

Lagi-lagi, ada banyak nama unik atau aneh-aneh yang berada di sekitar Puncak Carstensz, Papua. Terutama, jalur-jalur yang dilewati para pendaki dan juga dilewati oleh tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015.

Sabtu, 29 Agustus 2015, tim jurnalis berhasil melewati Teras Beras di ketinggian 4.600 mdpl dan Summit Ridge di ketinggian 4.700 mdpl. Sekitar pukul 10.00 WIT, kami sudah tiba di Kandang Babi.

"Yang menamakan ini pasti bukan orang Papua, karena orang Papua belum ada yang summit ke Puncak Carstensz. Orang papua yang jadi porter cuma mau mendaki sampai ke Basecamp Danau-danau saja," kata salah satu pemandu kami, Ardeshir Yaftebbi.

Menurut pria yang sudah lima kali bolak-balik mendaki Puncak Carstensz ini, nama Kandang Babi sepertinya diberikan oleh para pendaki yang awal-awal mendaki ke puncak setinggi 4.884 mdpl itu. Hal senada, juga dikatakan oleh Hendricus Mutter, ketua tim pemandu kami yang sudah 10 kali bolak-balik ke Carstensz.

"Untuk lewat Kandang Babi, kita harus pakai teknik Tyrollean yaitu menggantung di tali. Tapi sekarang sudah ada jembatan kawat besi, yang lebih memudahkan. Harus tetap hati-hati ya," ujar Hendricus.

Kandang Babi ini berupa jurang selebar 15 meter. Jurangnya ada di ketinggian 4.800 mdpl yang mana bawahnya terdapat batu sedalam belasan meter. Kemudian tebing yang sedalam ratusan meter. Gila!

"Kalau jatuh ke bawah, itu fatal. Bisa tersangkut di celah-celah batu dan lebih parahnya lagi bisa terperosok sampai ke Teras Beras. Atau yang paling parah, bisa sampai ke Lembah Kuning. 600 Meter ke bawahlah," tutur Adeshir.

Jembatan kawat besinya pun bentuknya seperti seutas tali tapi kuat. Telapak kaki saya harus dimiringkan untuk bisa berjalan ke depan. Sambil, tangan memegang dua tali di kanan dan kiri yang juga berfungsi sebagai pengaman. Dua cowstail harus terpasang dengan benar.

"Pas jalan, tangan di tali juga digerakan sambil mendorong cowstail. Percaya sama alat, jangan takut," tegas Adeshir.

Pelan-pelan saya melangkah. Awalnya tidak mau melihat ke bawah, tapi namanya manusia pasti selalu penasaran. Saya layangkan pandangan ke bawah dan melihat jurang yang sangat sangat dalam!

"Jangan melihat ke bawah Fif, jalan terus," teriak Adeshir dari belakang.

Sambil pegangan pada tali dengan kuat, saya kembali pelan-pelan berjalan. Begitu tiba di seberangnya, saya menghela nafas yang panjang sambil geleng-geleng kepala. Kandang Babi ini benar-benar mengerikan. Sumpah!

Menurut Ardeshir, sebenarnya memakai Tyrollean lebih seram lagi. Di seberang jembatan kawat besinya, tali untuk Tyrollean memang masih ada. Namun, kami memilih jembatannya saja karena lebih menghemat waktu untuk tiba di Puncak Carstensz.

Jembatan kawat besi itu rupanya baru dipasang saat perayaan 17 Agustus 2015 oleh tim Vertical Rescue yang dipimpin Teddy Ixidiana. Sementara yang Tyrollean, sudah ada sejak lama.

Dengan dua trek tersebut, Kandang Babi jadi lebih mudah untuk dilewati. Para pendaki pun tidak perlu menuruni jurangnya, sehingga bisa irit waktu sampai 30 menit. Dengan jembatan kawat besi, malah menyebranginya cuma sampai 2 menit.

Dari Kandang Babi, setidaknya masih terdapat tiga celah batu yang cukup dalam yang harus kami lewati. Kandang babi pun jadi trek yang paling berbahaya yang harus dilewati para pendaki sebelum ke Puncak Carstensz.

0 comments:

Post a Comment